Bila membahas tentang the power of mathematics, saya hanya bisa membayangkan tentang beberapa hal. Ya, hal yang membuat matematika terasa kuat dan berpengaruh terhadap segala sesuatu yang ada di dekat atau bahkan di sekitar saya, tentu dari sudut pandang saya sendiri. Meskipun terasa dan terlihat membosankan, namun bagi saya itu menarik dan bisa membuat saya merasakan bahwa betapa kuatnya matematika hingga dapat membuat saya tertarik.
Ya, matematika bisa membuat saya yang sering malas ini tertarik.
Ada banyak hal, bahkan hamper semua hal, yang sangat membosankan dalam matematika hingga saya harus menguap berkali-kali ketika membacanya. Kopi sepahit apapun saya rasa tidak cukup untuk membuat saya terbangun ketika saya membaca, terutama bacaan yang hanya tulisan saja dan tanpa gambar seperti sejarah matematika. Namun, sampai sekarang ini dan mungkin kedepannya, saya masih tertarik dan tidak merasa sepenuhnya bosan ketika mempelajari matematika, atau bahkan ketika membaca sejarah tentang rumus abc yang nantinya akan saya jelaskan. Entah mengapa ada sesuatu yang menarik saya untuk membaca dan mengerti perihal masalah tersebut.
Ketika saya mempelajari diagram SIR, dimana virus menyebar dari yang rentan ke terjangkit hingga sampai pada kesembuhan yang masih bisa terkena penyakit lagi, jika saya tidak mengerti, saya pasti akan langsung melempar kertas yang berisi diagram tersebut sembarangan. Namun, ketika mempelajarinya dan kemudian setelahnya, saya mendapatkan ide-ide menarik tentang penggunaan diagram tersebut untuk beberapa hal yang bersifat trivial atau pribadi, tentu akan terasa menyenangkan dan menarik, diluar pendapat bahwa penggunaan di virus juga tidak kalah menyenangkannya.
Itulah yang membuat saya menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat saya, orang yang hanya membaca satu paragraph saja mengantuk, tetap terjaga dan menari-narikan mata pada kertas atau materi yang berhubungan dengan matematika. Ya, sesuatu yang membuat matematika entah mengapa menjadi semakin menarik dan tidak membosankan lagi. Memberikan soal, pemecahan, dan kepuasan sendiri setelah mengerjakannya, itu juga beberapa hal yang membuat saya tertarik pada matematika. Dan saya rasa itulah “kekuatan” dari matematika. Kekuatan yang seperti magnet, menarik seseorang untuk terus bersenang-senang dan kadang lupa waktu ketika mempelajari tentang matematika. Dimana kita juga merasakan banyak hal yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang membuat matematika “kuat”, kekuatan untuk membuat dirinya tertarik.
Selanjutnya saya akan membahas beberapa sejarah tentang ditemukannya suatu teorema/rumus/beberapa hal dalam matematika.
1. Rumus Kuadratis
Pada tahun 1500 SM di Mesir, aspek pertama persamaan kuadratis adalah pada rumitnya masalah persamaan tersebut, yang membuat banyak orang yang menginginkan solusi mudah dan cepat. Biasanya untuk menghitung berapa ikat lotar yang muat pada suatu penyimpanan berukuran tertentu dengan jumlah lotar yang tertentu pula. Mereka tahu kalau mereka dapat menyimpan sembila ikat lotar kalau satu sisi persegi dikalikan tiga/diperbanyak tiga kali. Untuk informasi saja, di Mesir dulu mereka tidak tahu tentang persamaan dan angka seperti yang kita ketahui sekarang, melainkan hanya deskripsi, secara retoris, dan kadang sulit untuk diikuti. Sehingga para ahli menggunakan cara yaitu menghitung semua luas yang mungkin pada persegi dan membuat tiruannya, tentu memiliki kesalahan perhitungan (lebih kecil/lebih besar dari aslinya). Selanjutnya pada tahun 400 SM di Babilonia, mereka menemukan metode yang lebih umum yang disebut sebagai “melengkapi kuadrat persegi” untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas. Tentu, lebih mudah karena mereka sudah menggunakan sistem angka, pada saat itu system basis-60.
Selanjutnya pada tahun 300 SM ketika Phytagoras menemukan bahwa akar kuadrat tidak selalu bilangan bulat dan juga Euclid menemukan beberapa proporsi yang tidak termasuk dalam bilangan bulat, dan ditemukanlah bilangan irasional. Dan untuk itu, masalahnya ada pada bagaimana cara menghitung akar kuadrat dari semua angka menggunakan tangan (tentu karena dulu tidak ada kalkulator) hingga sampai membuat matematika dirasa beralih dari sains pragmatis kea rah yang lebih mistis, hanya karena masalah di atas. Sekitar tahun 700 M diturunkan oleh Brahmagupta dari India menggunakan angka, termasuk angka irasional, dan juga dua akar pada solusi, yang pada akhirnya disempurnakan oleh Baskhara yang mengungkapkan bahwa setiap angka positif mempunyai dua akar kuadrat. Hingga pada akhirnya Girolamo Cardano pada tahun 1545, dengan menyampurkan solusi dari Al-Kwharismi (masanya pada 820M) dengan geometri Euclidian. Pada karyanya, ia memperbolehkan bilangan kompleks, atau bahkan imajiner, yang mana adalah akar dari angka negative. Namun selanjutnya, Lagrange mencoba membuat sebuah rumus yang lebih universal untuk menyelesaikan suatu persamaan kuadrat yang berbeda dari/bervariasi dari rumus aljabar yang sudah ada yang dikenal sebagai rumus kuadratis, atau pada siswa sekolah lanjut sekarang menyebutnya sebagai rumus abc.
Untuk persamaan kuadrat
dengan nilai
, ataupun bentuk persamaan kuadrat yang sulit difaktorkan, biasanya akan lebih mudah diselesaikan jika menggunakan rumus kuadrat, yaitu
. Adapun cara memperolehnya yaitu :
Dari bentuk umum persamaan kuadrat,
bagi kedua ruas dengan a
Pindahkan 
ke ruas kanan
sehingga teknik melengkapkan kuadrat bisa digunakan di ruas kiri.

Pindahkan
ke ruas kanan

lalu samakan penyebut di ruas kanan.

Kedua ruas diakar (dipangkatkan setengah), sehingga tanda kuadrat di ruas kiri hilang, dan muncul tanda plus-minus di ruas kanan.
Pindahkan
ke ruas kanan
sehingga didapat rumus kuadrat
