Bila mengingat tentang apa yang disampaikan Bapak Marsigit pada pertemuan sebelumnya, beliau membahas tentang bagaimana seseorang di zaman dulu menghitung, atau lebih tepatnya, mengukur panjang dari sesuatu. Dengan pendapatnya, beliau membayangkan bahwa orang zaman dahulu, sebelum ditemukannya mistar atau alat penghitung lain, mereka menggunakan bayangan suatu benda dan atau manusia untuk berbagai hal. Misalnya bila ingin mengetahui waktu, bayangan pada tiang atau manusia menunjukkan waktu yang sedang berlangsung. Tidak terlalu akurat memang, namun cukup membantu melihat tidak adanya jam dinding pada saat itu.
Tidak hanya itu saja, ketika seseorang ingin menggambarkan sebuah pohon yang sangatlah tinggi, seseorang bisa saja mengatakan bahwa pohon itu adalah dua kali atau bahkan empat kali tingginya. Semua hal pasti akan diukur dengan perkiraan, mengingat tidak adanya alat yang membantu. Berbeda dengan sekarang yang serba sangat akurat, hingga tercipta juga benda yang amat sangat kecil yang bahkan lebih pintar daripada mahasiswa biasa, secara khiasan maupun literal.
Bayangan saya pun menggambarkan dan memikirkan tentang bagaimana seseorang pada zaman dahulu menghitung sesuatu yang tidaklah sedikit. Dengan pengetahuan seadanya dan tanpa riset, saya mencoba membayangkan bahwa dulunya, mereka menggunakan buah-buahan, misal apel, atau batu-batuan. Mengumpulkannya dan mengurutkan dan atau menghitungnya satu-satu, hingga mencapai perhitungan yang diinginkan. Misal ingin menghitung sepuluh buah yang dimakan dari tiga puluh tujuh buah yang ada, atau membagi tidak sama rata atau bahkan sama rata kepada beberapa orang. Menjajarkannya satu-satu dan memberikannya satu-satu hingga sama rata, atau sesuai dengan bagaimana pembagian yang diinginkan.
Namun jika jumlahnya cukup banyak, misalnya seratus buah, bahkan saya sendiri tidak akan berpikiran untuk menyusun 100 batu atau buah apel (itupun jika saya punya) dan membaginya sama rata atau bahkan sesuai dengan pembagian yang diinginkan, dan tentu, saya juga harus bertingkah seperti orang zaman dahulu. Ya, karena batu terlalu berat dan sulit untuk didapatkan, begitu juga apel, memakan banyak tempat untuk menghitung. Maka, diciptakanlah alat menghitung berupa biji-bijian kecil, atau bebatuan kecil, bulat dan halus agar enak dipakai. Biji-bijian itu ditusuk dengan bambu dan dijajar-jajarkan menjadi beberapa bambu (misal 10 baris) yang memiliki biji-bijian (misal 10 butir) dan setiap ujungnya ditutup dengan kayu, agar tidak tumpah atau lepas. Untuk menghitung hanya perlu dimulai dari kiri, dan menarik satu persatu biji-bijian itu ke atas untuk puluhan dan satuan, ke bawah untuk ratusan, ke atas lagi, dan seterusnya. Mungkin itu juga yang menjadi sistemperhitungan biji pada zaman modern, karena perkembangan dari zaman dulu, dimana belum adanya alat untuk berhitung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar