Halaman

Rabu, 02 Mei 2012

Matematika dari Diriku dan Sekitarku




Pernah berulang kali saya pikirkan bagaimana matematika itu bisa ada. Nama matematika itu sendiri bisa muncul begitu saja sudah menjadi hal yang sangat misterius. Ketika berpapasan dengan sebuah toko, papan iklan, atau bahkan lampu merah, melihat angka selalu membuat saya berpikir bahwa itu menggunakan matematika, angka, dan yah, tidak ada yang akan mengatakan kalau angka itu tidak ada hubungannya dengan matematika kecuali orang itu tidak memiliki pengetahuan tentang matematika. Dan dari situ saja sudah bisa diambil satu kesimpulan yang pasti akan matematika.

Matematika berawal dari pikiran.

Seperti yang sudah saya sebutkan, ketika seseorang melihat sebuah angka dimanapun bahkan di mesin kas yang selalu mengkalikan atau menjumlahkan harga-harga yang akan kita bayar untuk membeli suatu barang, secara tidak sadar mereka yang melihatnya pasti akan menganggap bahwa itu adalah matematika, menggunakan matematika. Namun pada zaman dahulu belum ada bahasa yang tepat untuk mewakilkan matematika, jelas sebelum matematika (entah menurut bahasa mana) ditemukan (dan pada zaman dahulu tidak ada mesin kas, dan mungkin perhitungan tentang berapa apel atau sapi yang ada lah yang dipikirkan). Karena itulah tercetus kata matematika (bahasa menyesuaikan) dan itu muncul secara tidak disadari oleh manusia.

Setiap orang perlu menghitung dan mengira akan sesuatu, terutama secara matematis. Dari situ bisa kita bayangkan bahwa orang zaman dulu ketika mengukur lebar sebuah sungai untuk dilompati, kira-kira berapa kaki atau hasta atau bahkan menggunakan metode pengukuran yang masih kolot, namun jelas mereka memikirkannya. Berapa jambu monyet yang bisa mereka petik selama satu jam, itu semua muncul dibenak mereka secara alami, dan tidak dibuat-buat. Itulah beberapa hal yang membuktikan bahwa matematika itu terlahir dari pikiran seorang individu, atau kelompok untuk kasus yang selanjutnya.

Benar, matematika berasal dari berbagi, pengalaman tentunya. Perkembangan matematika tidak akan, atau lebih halusnya, sulit untuk bisa dipikirkan hanya dengan satu individu saja. Ya, mereka tentunya akan saling berbicara tentang apa yang telah mereka temukan tentang hitung menghitung, mungkin bisa juga saling pamer, namun yang jelas mereka saling berbagi.

Ketika sebuah kelompok atau pedesaan memiliki tujuh teori yang sudah mereka buktikan sendiri, dan seorang pengelana datang dan singgah di tempat itu, tidak akan menjadi rahasia lagi karena kemungkinan besar pengelana itu berbagi pengalaman dan bercerita banyak hal, tentu matematika bisa termasuk juga karena hal yang sulit pasti akan dipamerkan, atau paling tidak, dibanggakan oleh seseorang dan dia tidak sabar untuk menceritakannya pada seseorang atau bahkan banyak orang.
Dari satu desa/kelompok, menjalar ke desa/kelompok lain, dan terus menerus saling membanggakan diri sampai pada akhirnya mereka kehabisan bahan untuk dibanggakan dan mereka lama kelamaan setara. Setelah itu mereka menunggu, atau bahkan ada yang sengaja mengirim sebagian dari mereka ke suatu tempat yang memiliki teori baru yang belum pernah ada di desa/kelompoknya, untuk pada akhirnya mereka bagi-bagikan lagi setelah dia kembali dan kemudian saling pamer lagi. Ini membuktikan bahwa matematika bisa berasal dari pengalaman.
Itulah contoh bukti dari asal usul matematika, menurut saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar