Pernah berulang kali
saya pikirkan bagaimana matematika itu bisa ada. Nama matematika itu sendiri
bisa muncul begitu saja sudah menjadi hal yang sangat misterius. Ketika
berpapasan dengan sebuah toko, papan iklan, atau bahkan lampu merah, melihat
angka selalu membuat saya berpikir bahwa itu menggunakan matematika, angka, dan
yah, tidak ada yang akan mengatakan kalau angka itu tidak ada hubungannya
dengan matematika kecuali orang itu tidak memiliki pengetahuan tentang matematika.
Dan dari situ saja sudah bisa diambil satu kesimpulan yang pasti akan
matematika.
Matematika berawal dari
pikiran.
Seperti yang sudah saya
sebutkan, ketika seseorang melihat sebuah angka dimanapun bahkan di mesin kas
yang selalu mengkalikan atau menjumlahkan harga-harga yang akan kita bayar
untuk membeli suatu barang, secara tidak sadar mereka yang melihatnya pasti
akan menganggap bahwa itu adalah matematika, menggunakan matematika. Namun pada
zaman dahulu belum ada bahasa yang tepat untuk mewakilkan matematika, jelas
sebelum matematika (entah menurut bahasa mana) ditemukan (dan pada zaman dahulu
tidak ada mesin kas, dan mungkin perhitungan tentang berapa apel atau sapi yang
ada lah yang dipikirkan). Karena itulah tercetus kata matematika (bahasa
menyesuaikan) dan itu muncul secara tidak disadari oleh manusia.
Setiap orang perlu
menghitung dan mengira akan sesuatu, terutama secara matematis. Dari situ bisa
kita bayangkan bahwa orang zaman dulu ketika mengukur lebar sebuah sungai untuk
dilompati, kira-kira berapa kaki atau hasta atau bahkan menggunakan metode
pengukuran yang masih kolot, namun jelas mereka memikirkannya. Berapa jambu
monyet yang bisa mereka petik selama satu jam, itu semua muncul dibenak mereka
secara alami, dan tidak dibuat-buat. Itulah beberapa hal yang membuktikan bahwa
matematika itu terlahir dari pikiran seorang individu, atau kelompok untuk
kasus yang selanjutnya.
Benar, matematika
berasal dari berbagi, pengalaman tentunya. Perkembangan matematika tidak akan,
atau lebih halusnya, sulit untuk bisa dipikirkan hanya dengan satu individu
saja. Ya, mereka tentunya akan saling berbicara tentang apa yang telah mereka
temukan tentang hitung menghitung, mungkin bisa juga saling pamer, namun yang
jelas mereka saling berbagi.
Ketika sebuah kelompok
atau pedesaan memiliki tujuh teori yang sudah mereka buktikan sendiri, dan
seorang pengelana datang dan singgah di tempat itu, tidak akan menjadi rahasia
lagi karena kemungkinan besar pengelana itu berbagi pengalaman dan bercerita
banyak hal, tentu matematika bisa termasuk juga karena hal yang sulit pasti
akan dipamerkan, atau paling tidak, dibanggakan oleh seseorang dan dia tidak
sabar untuk menceritakannya pada seseorang atau bahkan banyak orang.
Dari satu
desa/kelompok, menjalar ke desa/kelompok lain, dan terus menerus saling
membanggakan diri sampai pada akhirnya mereka kehabisan bahan untuk dibanggakan
dan mereka lama kelamaan setara. Setelah itu mereka menunggu, atau bahkan ada
yang sengaja mengirim sebagian dari mereka ke suatu tempat yang memiliki teori
baru yang belum pernah ada di desa/kelompoknya, untuk pada akhirnya mereka
bagi-bagikan lagi setelah dia kembali dan kemudian saling pamer lagi. Ini
membuktikan bahwa matematika bisa berasal dari pengalaman.
Itulah contoh bukti
dari asal usul matematika, menurut saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar